Sunyi Angin Selatan

Rabu, 7 Januari 2009

Sudah bukan rindu. Sudah bukan temu. Tapi derita; bila angin tiada.

Sunyi Aksara Dimata

Rabu, 7 Januari 2009

Matamu.
Mataku.

Aku kesukaran mengendapi aksara seduapuluhenam tahunmu.

Sunyi Temu

Rabu, 31 Desember 2008

Akhir yang ketemuan pangkal. Semenjak keberpisahan mengelindan mata. Bayang memutus dengan kehendak. Menitis kau di pangku sunyi.

Sunyi Rindu Sunyi

Selasa, 23 Desember 2008

Dia enggan mati. Sudah ujud imaji. Pada sajian lakon di mimpi, dalam ruang emosi. Menambah mabuk menjejak hidup yang pula fatamorgana.

Ini kisah. Tak gagah, tak wibawa, atau berlimpah megah cerita.

Kisah rindu sunyi. Melekat tatap yang tak lagi asing. Yang menetap di ruang lain. Sempatkah ia menatap. Sebelum luruh pada jauh.

Ini kisah kerinduan, menemu sunyi.

Sunyi Esemes

Selasa, 23 Desember 2008

Alastu!

Betapa berlalu waktu!

Segala kemarin cukup sedurasi esemes!

Pagi…! :)

Sunyi Secangkir Kopi

Selasa, 23 Desember 2008

Ini malam, seperti juga kopiku, hitam dan hampir habis. Keduanya bergumul, sama-sama hendak memenangkan mataku. Satu ingin merubuhkan, lainnya ingin menegakkan. Namun jelas, keduanya masih tak hendak melapis hatiku dari sebentuk hawa. Rindu? Yaa…katakanlah…, rindu. Rindu yang menginfeksikan platonis. Dan ini malam, ia lagi dirajam. Entah hingga kapan. Mungkin kapannya yang samar berhingga.

Katanya sunyi. Sunyi…? Jadi tidak, bagiku. Atau mungkin…seperti sunyi secangkir kopi. Ada gemuruh ribuan butir gula yang membangun tempatnya pada serbuk pahit itu –mungkin nanti kita mau menghitungnya :). Lalu, kegalauan memaksa gerak lengan agar menuangkan “securuluk” kehangatan air. Biar mereka damai. Biar jadi secangkir kopi, sedap direguk. Sambil mengenangkan selintas wajah, yang seperti juga…kopiku?

Kembali pada sunyi. Bahkan muncul hingar lain dengan segala macam tingkahnya. Melesat-lesatkan getir. Menabuh deru bisik. Dan tentu, segala hawa rindu yang membentuk gerombolan teguh. Mereka seperti beramai-ramai hendak menggotongku dari putaran jam ke pusaran badai ilusi. Badai ilusi? Mungkin berlebihan. Katakanlah sekedar mengganggu angin agar tak menumbuhkan musim di ladang nalar. Walau kenyataannya hujan di luar, sedang besar-besar, dan menimpuki hati bergotongroyong. Untungnya, masih dihalang oleh keputusan musyawarah antara genting, langit-langit, dan…sedebu kopiku?

Sudahlah. Lupakan!

Ingin begitu. Namun, bahkan, aku “malah” jadi larut pada secangkir kopiku; yang pahit, manis, dan hangat itu.

Lalu, mungkin ada interupsi purba: seperti apa ikatannya? Jawabnya nanti saja. Bagi logika formal, mudah menjawabnya. Tapi, mungkin, kondisiku terseret pada pusaran dialektik. Apa sintesisnya?

Lalu nanti, ‘jika sampai waktuku’, dan jika tenggelam, ‘pakah segalanya mengilusi: tentang hari yang biru, si kecil yang bersimfoni tawa, dan terlebih, dekap hangat dia yang manja, atau dekap manja dia yang hangat? Aku…tak tahu. Atau, mungkin begini, “Rinduku tak seperti pada lilin, yang membuatnya tiada biar menerangiku.” Seperti tak asing kata-kata ini. Tidak juga. Dia hanya lebih dulu menemu publik. Sedang aku suka melontarkannya pada sunyi, atau kuselip-selipkan di tiap kepitan angin.

“Mungkin saat ini, ia terlalu mabuk. Ya! Itu dia, mabuk! Lihat saja matanya.”
Begitu bisik-bisik yang kerap kutangkap dari mata mereka. Biasanya kutepis saja dengan diam. Lalu kuteruskan kayuh sepedaku sambil mengenangkan rindu pada selintas wajah yang kian melangit biru.

Prolog buat Tétéh

Sunyi Batu

Selasa, 23 Desember 2008

Lontarkan kata itu batu. Rindu menumpuk di urat-urat. Bilah pilah angin. Gurat kerat waktu. Pada tajam terbit segaris. Di gelepar debu. Dua sembab larikan kota. Jauh itu musnah. Sirna pada dekat.
Lontar sunyi itu desing. Biar huru ekor bintang. Tabur tanda ganda gaduh. Menyabit tidak mengerti. Biar kelabu kian lengang.

Sunyi Nalar

Minggu, 21 Desember 2008

Dan kamu pernah bilang:
“Aku tak-ingin pisah dengan dia,
Atau ‘ku mati saja.”

Manis,
Tak-berpisahkah dengannya jika kamu mati.

Juga kamu sempat ujar:
“Dalam kehidupan, tak-ada yang tak-mungkin.”

Cantik,
Juga ada yang tak-mungkin?

Rindu itu
bukankah ia dendam?

Sunyi Dingding2dicikcak

Jumat, 19 Desember 2008

Dingding2dicikcak.
Cicak yang bawa dinding. Biar tak lagi-lagi diam-diam merayap.

Dingding2dicikcak. Kaitkan gambar kabut. Di seonggok jendela. Biar liar di hiruk.

Dingding2dicikcak. Sudah hinggap dimana? Masihkah ia jauh. Biar lekas menatap.

Dingding2dicikcak. Cicak yang bawa dinding. Dinding-dinding merayap. Hap. Bulan di tangkap.

Sunyi Sukma

Kamis, 18 Desember 2008

Itu siapa, Mak?
Dia ayah, Anak.

Dan itu siapa, Mak?
Dia kakek, Anak.

Lalu itu, itu, siapa, Mak?
Dia abang, teteh, kerabat, sahabat, Anak.

Yang tidur siapa, Mak?
Itu kamu, Anak.

Aku, Mak?
Dulu, Anak.

Sunyi Jeni Genggam Telepon

Kamis, 18 Desember 2008

Jen ambil henpon dari saku.

RRR..RRR..!
Henpon bergetar. Tak-sabar.

RRR..RRR..!
Jen ragu.

RRR..RRR..!
Jen pilih menjawab diam.


Henpon diam.

Henpon Jen letakan dekat tas.
Si penelpon pun seperti ‘ngerti Jen.
Jen menghela sesak.
Ada getir merajam di tiap getarannya.
Kadang seperti iba saat mengacuhkannya.

Jen tahu keadaannya kini. Jen suka membayangnya: dia terbaring di kamar remang.
Ya, ia suka sekali cahaya dari liuk api.
Ia pasti lagi bergitar nada yang minor. Tanpa sekali akor.

Empat tahun Jen tak lagi jumpa. Namun Jen tahu segala peristiwanya.

Dan, Jen enggan menggapainya.
Mengenangnya? Ah, siapalah dia!

Henpon itu terkapar untuknya.
Henpon itu bagi selainnya.
Henpon itu ditatapnya dengan alis tak-liar.

Sunyi Kalut

Kamis, 18 Desember 2008

Gelak kayu kembang langit kembar tingkap laut jiwa luruh tali nyawa hinggap muai remuk mata kabut api liuk alir kata paruh malam kejap angin basuh luka getir luruh sirna simbah kayuh dara jauh kelam rubuh kota liar desir palung jalur kelak gelap lalu mabuk hingar hidup rasuk do’a kiblat dekat tinggi dalam senyap tuang biru bahu laut bilas penat pasir retak ulur desah malu iris pupil senja rebah pangku nisan sambil mati.

Sunyi Gila

Sabtu, 13 Desember 2008

Dan kamu lalu berlalu.

Dan selalu menuju lalu.
Dan mungkin mirip angin.
Dan lalu kamu hembus.
Dan juga kamu jauh.

Dan jadilah kamu angin.

Dan aku seperti punggung.
Dan aku berderita.
Dan tentu disebab kamu.
Dan karena kamu angin.
Dan wajar masuk punggung.
Dan jadilah punggung kembung.
Dan bisa sebutlah: aku terasuk kamu.

Dan sebenarnya aku tak mau kamu mirip.
Dan tak mau aku seperti.
Dan kamu maksa mirip.
Dan aku keukeuh seperti.

Dan jadinya sakit. Dan siapakah itu?
Dan tentu bukan kamu.

Dan untungnya ada kencringan.
Dan bila jadi maka: punggung s’perti tulang ikan.
Dan kamu jadi merah.
Dan jadilah aku dan kamu: tulang ikan dan merah.

Dan kamu tahu bukan, tulang ikan itu putih.
Dan tentu putih paradoks dengan merah.
Dan aku dipaksa mau.
Dan tercoba menerima: bahwa kamu paradoks aku.
Dan hatimu paradoks hatiku.
Dan rasamu paradoks rasaku.

Dan haruskah aku dan kamu lalu silang bersengketa.
Dan aku bingung.
Dan padahal kamu di pikirku.
Dan sungguh kamu jadi satu.
Dan sungguh di pikirku kamu indah jadi bayang.
Dan aku kian terkenang.
Dan kamu tambah membayang.
Dan aku jadi pelamun.
Dan kamu lalu hilang.
Dan semisal tadi kamu jadi pelalu.
Dan aku si pencari.

Dan mungkin aku ‘nyandu pada ujud semu angin.
Dan disebab kamu mataku ikut merah.
Dan lama-lama kian ruah.
Dan putih jadi merah.
Dan makanya kamu sulit dipisah.
Dan susah dibedakan.
Dan di tiap pandang hanya kamu.
Dan segala jadi merah, merah dan merah.

Dan tiba-tiba aku ingat bahwa ada yang terlupa bahwa kamu misal angin.
Dan bukan tentu merah adalah angin.
Dan aku malah tergila merah.

Dan lebih tiba-tiba aku jadi tidak lupa bahwa hanya ada satu kamu.
Dan kamu bukan angin.
Dan kamu bukan merah.

Dan aku tergila apa.

Sunyi Senja

Jumat, 12 Desember 2008

HEY..MANA KINI..?!
Di garis jingga. Tiba-tiba tiba. Ia ternganga.

DARI MANAKU..?!
Sekilas bayang meloncati kelopak. Teriak melabrak jingga arak.

AKU..TERHILANG..ANGIN!
Mangu. Menyusur langit rona ungu.

DUHAI..BERLALU SUDAH..BERLALU..SEGALA..TAK TERJARING..!
Ia sandar di cabang angin. Telekan di punggung rimba tua. Sulur-sulur akar angin. Daun berserak lelah kering.

TERJARAH..SEGALA..KESADARAN..!
Semburat senja membiasi putih mata. Berkerlip diselang telan kedip. Kabut terjerembab di pucuk puncak alis.

MEMERETELI..HATI..NALAR..JIWA..! SEGALA..KU..!
Kepala kurus itu limbung. Jatuh tersangga lutut. Tulang tengkuk menyembul berlomba mencakar pundak.

DUHAI..MANA KINI..?! MANA RAMBU..? SAMAR SEGALA..! MATAHARI…!

Ufuk kian bergaris. Hitam-hitam. Di atas hampar padang. Selintas sayap mengepak jauh silang sambar.

Surut. Kian. Pendar barat tuju pudar. Kelam lalu. Lelaki pun legam. Huru angin. Kelu. Buru malam. Beku.

MATAHARI..KU..!
MANAHARI..KU..!
MANATARI..KU..!
MANAHATI..KU..!
MATAHARI..KU..!

Sunyi Kenang

Jumat, 12 Desember 2008

Kamar gelap. Sunyi. Lalu, ia diusik gatal pada lengan dan kaki.
Nyamuk. Berdengungan. Bising. Berputar-putar. Terus menguntit telinga. Serasa tembus menggedor-gedor. Otak dibakar.

Sayang, aku senang kamu terlelap barusan.

“Hmm..,” ia jambak rambutnya sendiri, “lumayan..kepalaku..duuhh..!!”

Kamu gelisah lagi?

“Sedikit..huhh..! Aku tersiksa lagi.”

Sayang, kemarin kamu bilang sudah merelakan..semua yang hilang. Semua yang bukan..nasibmu.

“hhhh..!”

Sayup-sayup terdengar suara deru. Entah debu. Entah hantu. Lalu..kembali..sunyi.

Sunyi Bayang

Jumat, 12 Desember 2008


Ia diam.

“Aku rindu lirihmu.”


Masih. Seperti kata itu beku.

“Kamu sakit?”


Titik pun sungkan lahir.

“Berat sudah. Lama rindu ujar. Satu lirih mungkin. ‘Aku baik di sini’.”


Sunyi.

“Padahal ada sepintas senyum. Kutangkap tadi. Hap. Indah di garis bibirmu.”

“Ya. Mungkin salahku. Siapa suruh rindu kamu. Begitu? Mungkin katamu.”

“Baik. Kamu tetaplah di situ. Biar kubidik kibar rambutmu.”

“Ya, begitu! Aku suka kamu palingkan wajah. Biar. Tetaplah memancar.”

“Lentik bulu matamu. Menghadang langit. Menantang pandang. Ah, jangan ubah berdirimu. Sungguh..kamu surga. Terlebih ini senja.”

“Hey, mau kemana?”

“Oh, ya sudah. Lagian aku yang lupa.”

“Ya, sudah berapa malam ini..kau selalu begitu. Terbit setia di ufuk mataku.”

Sunyi Rindu

Jumat, 12 Desember 2008

A: Kamu lagi kangen, ya ?
J: Heuh…? Ya…Tidak…Ya…!
A: Sederhanain dong.
J: Jika semudah itu.
A: Perinci mungkin. Satu kata saja!
J: Kata…?
A: Sepatah!
J: Jika saja…segala suatu muat pada kata. Lalu, kata dapat memuat suatu rasa. Terasakah manis di lidahmu, bila ku berikan kata ARSYHS. Sedangkan ujud itu tiada di mulutmu. Bahkan kata itu tak-ada di otakmu.

A: Apaan tuh?
J: Ya, itulah.
A: Ih, gak usah dibelit-belit gitu. Sederhana. Kaya orang-orang.
J: Jika semudah itu.
A: Mesti dimudahin.
J: Sudah terkatakan.
A: ARSYHS…?
J: ARSYHS…!
A: Kamu lagi ARSYHS, ya?
J: Ya, aku lagi ARSYHS. Selalu ARSYHS!
A: Nah, gitu dong! Mudah, ‘kan?!

Sunyi Awal

Jumat, 12 Desember 2008

Mula.
Selalukah indah?
Segala hidup. Ilalang bekejaran. Senja mengayuh. Puncak-puncak malam berpendaran.

Mula.
Tak-hentikah menggeletar. Teguh menuai denting. Segala angin, segala nyaring.

Mula.

Akhir.
Padakah ia mengabur.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.